Arsitektur Tradisional Sunda Julang Ngapak





julang ngapak


Lukisan kuno yang menggambarkan suasana sebuah perkampungan di daerah Garut Selatan (Jawa Barat) dengan bentuk rumah bergaya arsitektur tradisional Sunda julang ngapak dengan latar belakang Gunung Papandayan yang mempesona. Dibuat oleh Prof. E.H.P.A. Haeckel (1834-1919) seorang Biologist, Naturalist berkebangsaan Jerman.

Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, tentunya mempunyai bentuk dan nama rumah adat sendiri. Masing-masing rumah adat mempunyai fungsi dan manfaat yang hampir sama, yaitu sebagai tempat tinggal, namun ada pula yang dijadikan tempat keramat. 

Bahan bangunan yang digunakan untuk membuat rumah adat, baik di Jawa Barat maupun di daerah lainnya, umumnya terdiri atas bahan alami, seperti kayu, bambu, ijuk, daun kepala, sirap, batu maupun tanah. Selain itu, bangunan rumah adat pun biasanya jarang langsung menempel ke tanah (berlantai tanah), kecuali rumah adat di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, maupun Papua. 


Sedangkan di daerah lainnya di Indonesia, termasuk rumah adat di Jawa Barat, biasanya dibangun berbentuk panggung. Hal ini untuk sirkulasi angin, juga menghindari binatang (binatang buas maupun melata).

Khusus di tanah Parahyangan, rumah adat biasanya dibangun di atas tanah sekitar 40-60 cm dengan menggunakan batu. Biasanya dilengkapi golodog berupa tangga dan teras depan. Sedangkan bentuk atap atau suhunan sangat bergantung letak geografis di mana rumah itu dibangun.




Bentuk suhunan rumah Sunda sangat disesuaikan dengan keadaan alam serta kebutuhan masyarakat urang Sunda. Di tanah Parahyangan banyak bentuk gaya rumah, yang umumnya diperlihatkan dari bentuk atapnya (suhunan atau hateup). 

Ada beberapa susuhunan yang dikenal masyarakat Sunda, seperti suhunan jolopong atau regol, suhunan tago/jogog anjing, suhunan badak heuay, suhunan perahu kumureb/nangkub, suhunan capit gunting, suhunan julang ngapak, suhunan buka palayu, dan buka pongpok.


Rumah Camat Sukapura Kolot  Tasikmalaya 

Suhunan jolopong (pelana), merupakan bentuk rumah yang atapnya memanjang. Atap rumah jolopong ini biasa juga disebut suhunan panjang, gagajahan, dan regol. Sedangkan atap rumah jogog atau tagog anjing, bentuknya seperti anjing yang sedang duduk. Bagian depan mirip mulut anjing, menjulur menutupi teras rumah (ngiuhan emper imah).

Atap rumah bentuk badak heuay, biasanya bentuk atapnya mirip bentuk atap rumah tagog anjing, tapi di bagian atas suhunan-nya ada tambahan atau atap belakang dan depan yang menyerupai badak menguap.

Atap rumah parahu kumureb/nangkub, yakni potongan bentuk atap yang mirip perahu terbalik (lihat gunung tangkubanperahu). Di daerah Tomo, Kab. Sumedang, bentuk rumah seperti ini disebut juga jubleg nangkub. Sedangkan atap rumah bentuk capit gunting, yakni atap rumah yang setiap ujungnya dihiasi kayu mirip gunting yang siap nyapit. 

Bentuk ini sering juga disebut srigunting. Sementara atap julang ngapak, dilihat dari depan, suhunan kiri kanannya mirip sayap burung yang terentang. Sedangkan julang-suhunanna sebanyak empat penjuru menyambung dari sisi turun ke bawah. Sambungan bagian tengah menggunakan tambahan mirip gunting muka di bagian puncaknya. Julang ngapak bentuknya mirip burung yang sedang terbang.

Atap rumah bentuk buka palayu, yakni atap rumah yang suhunan-nya mirip suhunan rumah adat Betawi dan di bagian depannya ada teras yang panjang. Sedangkan buka pongpok, bentuknya mirip buka palayu, namun bagian pintunya diubah dan diarahkan langsung ke bagian jalan.
Sangat jarang.



Rumah Tradisonal Sunda di Kampug Papandak Garut
foto dibuat tahun 1900


Namun sayang bentuk dan gaya rumah adat Sunda ini sudah sangat jarang ditemui, khususnya di daerah perkotaan yang sudah ganti dengan nama dan gaya dari Barat. Tentunya hal ini bukan tanpa alasan. Kemajuan zaman dan adanya serangan budaya dari bangsa lain, membuat banyak bentuk rumah orang Sunda lebih bergaya modern.
Padahal masyarakat Sunda dulu, membuat gaya dan nama suhunan ini bukan sembarang. Selain itu fungsi dan namanya pun mempunyai arti masing-masing. Secara umum, nama suhunan rumah adat orang Sunda ditujukan untuk menghormati alam sakurilingna. 





Hampir di setiap bangunan rumah adat Sunda sangat jarang ditemukan paku besi maupun alat bangunan modern lainnya. Untuk penguat antartiang digunakan paseuk (dari bambu) atau tali dari ijuk ataupun sabut kelapa. Sedangkan bagian atap sebagai penutup rumah menggunakan ijuk, daun kepala atau duan rumia. Sangat jarang menggunakan genting.
Beruntung keberadaan kampung adat maupun kampung budaya di Jawa Barat sangat menolong eksistensi bentuk dan gaya suhunan rumah adat Sunda. Bukan hanya nama-nama suhunan rumah yang dipertahankan, tetapi bentuknya pun dipertahankan dan dikembangkan sesuai bentuk aslinya.Dalam komunitas masyarakatadat urang Sunda, banyak bangunan yang pemakaiannya umum, seperti : 

Gedung : rumah yang besar dan kuat. Biasanya menggunakan bahan bangunan yang ditembok.

Joglo : sebuah rumah kecil dan sederhana (terbuat dari tembok dan kayu). 

Bale kambang : rumah-rumahan dangau, dibangun di atas kolam. 

Poporogok : rumah berbentuk dangau kecil tapi lumayan. 

Pakuwon : pekarangan rumah milik sendiri. 

Ranggon :  dangau yang sangat tinggi kolongnya dan dibangun di atas pohon yang tinggi. 

Regol : bangunan yang mempunyai daun pintu lebar dan saung, yakni dangau kecil yang dibangun di tengah sawah atau ladang tanpa menggunakan dinding, fungsinya untuk istirahat petani.

Babancong : sebuah bangunan kecil di sisi alun-alun (dulu), berbentuk panggung untuk para pejabat. 

Balandongan : bangunan rumah sementara untuk menerima tamu ketika ada hajatan maupun hiburan. 

Bale desa : kantor pamong desa. Bale kota, yakni kantor wali kota atau bupati. Bale watangan, yakni gedung pengadilan. 

Gedong songko : rumah bupati baheula. Kadaton atau keraton, pendopo, yakni teras luas di bagian depan gedung kewedanaan atau balai kota. 

Kaputren atau kaputran : rumah dan bangunan untuk putri raja. Benteng, yakni bangunan kuat yang dijadikan benteng pertahanan. 

Jongko : warung untuk berjualan dan lain-lain. Semua jenis bangunan dan nama bangunan tersebut, saat ini sudah tidak digunakan lagi karena tergerus oleh zaman. Dari berbagai sumber


  Dongeng Sunda Si Kabayan Kumisan BACA BERIKUTNYA>>
 Dongeng Sunda Si Kabayan Ngala Lauk BACA BERIKUTNYA >>
Dongeng Sunda Si Kabayan Bajigur Jeung Bengsin BACA BERIKUNYA >>