Bandung Tempo Dulu di Bawah Kekuasaan Dipati Ukur

Dijual Buku Antik dan Langka


 Bandung Tempo Dulu 1819-1820
BERBURU RUSA DI BANDUNG TAHUN 1819-1820

Ada sebuah negeri yang bernama Bandong (Bandung) yang terdiri atas 25 sampai 30 rumah, demikian tulis seorang Mardjijker (mata-mata Belanda) bernama Juliaen de Silva pada tahun 1641, dengan menggunakan bahasa Belanda kuno.

Menurut frof.Dr. E.C. Godee Molsbergen (1935), Landsarchivaris (arsip negara) di Batavia: dari data yang pernah ditemukan, Juliaen de Silva mungkin orang asing pertama yang datang ke Tatar Bandung. Yang di kala itu, lebih dikenal oleh pemerintah Belanda dengan sebutan "Negorij Bandong" atau "West Oedjoeng Broeng".

Di kalangan penduduk pribumi sendiri, wilayah Bandung pada abad ke-17 sering di sebut Tatar Ukur. Salah seorang pemimpinnya pada saat itu bernama Wangsanata alias Dipati Ukur.

Pada tahun 1628, bersama Tumenggung Bahureksa, Dipati Ukur diserahi tugas oleh Sultan Agung Mataram, untuk menggempur benteng Kompeni Belanda di Batavia.

Karena peristiwa itulah,penguasa Kompeni Belanda Di Batavia yang semula kurang begitu memperhatikan Tatar Ukur, mulai menaruh curiga, jangan-jangan daerah yang masih terbilang terra incognita (daerah tak bertuan) itu bisa jadi sarang pemberontak, yang sewaktu-waktu bisa mengganggu kedudukannya di Batavia.

Demi kewaspadaan nasional, kehadiran Juliaen de Silva ke Tatar Ukur, patut dicurigai sebagai mata-mata Kompeni Belanda. Memang cukup beralasan untuk mencurigai orang-orang Mardijker seperti Juliaen de Silva, karena mereka terkenal dengan sebutan anjing setia Kompeni.



bandung tempo dulu 1830
SEBUAH RUMAH DI OEDJONGBRON (UJUNG BERUNG) 
TAHUN 1830 DENGAN LATAR BELAKANG 
PERKEBUNAN TEH CIUMBULEUIT


Lewat penuturan Dr. Soekanto 1954, bahwa Mardijker yang ada di Batavia berasal dari India. mereka sering disebut christen-swarten atau kristen hitam. Sejak pengepungan kota Batavia pada tahun 1619, mereka berdiri di pihak Kompeni. pada tahun 1626 si hitam (swarten) bersama orang-orang  Belanda  tercatat sebagai schuttersrol semacam hansip. 

Tatkala Batavia dikepung pasukan Mataram pada 1628, para Mardijkers ikut membantu Belanda. Caldero lah seorang mardijker yang ditunjuk Belanda menjadi opperhoft van de swarten di Batavia pada tahun 1629.

Seorang Mardijker adalah 100 persen  asli darah asia. Anak-anak Mardijkers bila dibaptis (gedopt), sering sekali menerima nama bapak baptisnya, yang umumnya adalah tuan  mereka sendiri, yaitu orang Portugis. Oleh sebab itu kebanyakan nama orang Mardijkers berbau "Portugis".

Istilah Mardijkers ternyata tidak ada sangkut-pautnya dengan bahasa Belanda dijk yang berarti tanggul atau pematang sawah. Akan tetapi justru ada hubungannya dengan bahasa Sansekerta yaitu Mahardika, yang disingkat menjadi mardika atau merdeka. Jadi, Mardijkers adalah orang-orang yang bebas merdeka (vrijgelatene) bukan budak belian lagi.

Semenjak kedatangan mata-mata de Silva di tahun 1641 , secara berkala kasteel van Batavia (Benteng Kompeni) mengirim mata-matanya ke daerah Tatar Ukur untuk memata-matai kalau-kalau ada pemberontakan terhadap Kompeni. Yang kala itu kekuatan kompeni Belanda masih lemah.

Lewat catatan-catatan van Riebeek, barulah Kompeni Belanda menyadari akan potensi Wilayah Tatar Ukur. Sumber:Wajah Bandung Tempo Dulu.Haryoto Kunto



Dijual Buku Antik dan Langka Sastra Sejarah Dll
Dijual Majalah Cetakan Lama
Dijual Buku Pelajaran Lawas

Postingan terkait

Saya JAY SETIAWAN
tinggal di kota Bandung. Selain iseng menulis di blog, juga menjual buku-buku bekas cetakan lama. Jika sahabat tertarik untuk memiliki buku-buku yang saya tawarkan, silahkan hubungi Call SMS WA : 0821 3029 2632. Trima kasih atas kunjungan dan attensinya.

Bandung Tempo Dulu di Bawah Kekuasaan Dipati Ukur

Posting Komentar