Sekolah Tertua di Kabupaten Bandung

Dijual Buku Antik dan Langka



Sekolah Tertua di Kabupaten Bandung



SD Malabar II, Bangunan Tua Warisan Bosscha
Banguan tua itu masih berdiri di tengah perbukitan yang dipenuhi tanaman teh milik Perkebunan Teh Gunung Malabar, Kec. Pangalengan, Kab. Bandung. Sebuah bangunan yang berbentuk panggung, terbuat dari bilik bambu kusam, berlantaikan kayu jati, dan beratapkan seng. Meski sudah tua, bangunan itu tetap bisa berfungsi sebagai tempat belajar sejumlah murid sekolah dasar di sana. Ya, bangunan tua itu tak lain SD Negeri Malabar II.

Bangunan tersebut adalah warisan Karel Albert Rudolf Bosscha yang dibangun sekira tahun 1901. Bosscha membangun sekolah itu untuk memberi kesempatan kepada kaum pribumi, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di perkebunan teh Malabar agar mampu mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar empat tahun.

“Dulu saya pernah belajar di sana (SD Malabar II-red.) sampai tamat. Semua murid dan gurunya orang pribumi,” kenang Kosasih (82), seorang pensiunan buruh pabrik teh Malabar, warga Pangalengan. Ia mengaku sekolah di SD tersebut sekira tahun 1930.

Menurut Kosasih, SD Malabar II dulunya banyak diminati murid. Hampir semua anak-anak usia sekolah di Kec. Pangalengan diberi kesempatan belajar di sekolah yang berdiri di tengah perkebunan teh tersebut. Pada waktu itu, jumlah murid kelas I s.d. IV setiap tahunnya rata-rata 500 murid. Para murid bukan hanya anak-anak karyawan perkebunan, tapi juga berasal dari berbagai penjuru Bandung Selatan.

Kosasih juga menjelaskan, guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut dikenal sangat disiplin. Para lulusannya sangat mudah diterima bekerja di perkebunan teh milik Bosscha dengan gaji lumayan. Di samping itu, tak sedikit pula siswa yang melanjutkan ke tingkat lanjutan dan menengah (HIS dan MULO) di Kota Bandung.

“Saya angkat jempol buat Tuan Bosscha yang telah berani membuka sekolah bagi kaum pribumi. Padahal pada saat itu bangsa Belanda tak membolehkan kaum pribumi, khususnya wong cilik mengenyam pendidikan sekolah,” kenang Kosasih.

Sekolah panggung warisan Bosscha itu memiliki empat ruangan belajar. Masing-masing kelas berukuran 5 x 6 meter. Dulu cara belajar murid di kelas cukup dengan menggelar tikar di atas lantai kayu jati, dengan menggunakan sabak dan gerip. Bosscha, kata Kosasih, sangat memerhatikan kemajuan pendidikan dasar. Hal itu dibuktikannya dengan menanggung seluruh keperluan dan sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar. Pada saat itu, tak seorang murid pun yang dikenakan biaya sekolah karena semuanya sudah ditanggung oleh Bosscha.

Setelah Indonesia merdeka, Vervoloog Malabar, demikian Kosasih menyebut sekolah itu, diganti namanya dengan Sekolah Rendah. Kemudian berganti nama menjadi Sekolah Rakyat (SR) dan sampai sekarang berubah lagi dengan nama sekolah dasar (SD) enam tahun. “Karena ada perubahan tingkatan kelas belajar dari empat menjadi enam tahun, pihak perusahaan perkebunan membangun tiga ruangan lagi. Dua ruangan untuk kelas V dan VI. Sedangkan sisanya untuk ruanga kantor guru dan kepala sekolah. Bangunan baru dibangun tahun 1955 secara permanen,” jelas Entar (54), mantan lulusan SR Malabar II yang sekarang bekerja sebagai penjaga di sekolah itu.

Menurut Entar, di Kec. Pangalengan dulu anak-anak hanya bisa sekolah di Malabar II. Tahun 1950 dibangun SR Pangalengan I. Kemudian di kawasan perkebunan teh dibangun lagi bangunan SD. Apalagi pada tahun 1982 pemerintah membangun SDN Malabar IV yang letaknya hanya beberapa meter dari SD Malabar II. Maka, jumlah murid SDN Malabar II tidak lagi mendominasi seperti dulu, karena murid tersebar di sejumlah SD.

Museum pendidikan
Meski bangunan sekolah itu berbentuk panggung dengan kondisi yang memprihatinkan, lingkungan sekolah buatan tahun 1901 itu tampak asri dan indah. Di halaman sekolah terdapat tanaman dan bunga. Murid-murid SD yang sebagian besar putra putri karyawan PTP Nusantara VIII yang tinggal di bedeng-bedeng kebun, setiap hari harus pulang pergi ke sekolah tua sekira 2 km dengan menelusuri petakan kebun teh.

“Yang kami keluhkan adalah atap seng yang sejak sekolah itu berdiri hingga kini belum pernah diganti. Sekarang kondisinya sudah rusak. Kami merasa khawatir belajar di sekolah panggung itu. Makanya pada tahun ini sebagian murid kami dipindahkan ke SD Malabar IV,” kata Undang, Kepala SDN Malabar II, yang merangkap jabatan di SDN Malabar IV. Letak kedua sekolah itu memang berdekatan.

Undang dan para guru merasa bingung untuk memperbaiki sekolah panggung tersebut. Dilihat dari status kepemilikan, secara fisik SD Malabar II adalah PTP Nusantara VIII. Sementara urusan pendidikan dan pengajaran, diserahkan kepada pemerintah, dalam hal ini Cabang Dinas Pendidikan Kec. Pangalengan. Menurut Undang, pihak perusahaan tampaknya kurang peduli terhadap kondisi sekolah warisan Bosscha yang sekarang terancam rusak itu. Sementara pihak dinas pendidikan tidak bisa merehab, apalagi memperbaikinya, karena sekolah itu milik PTP Nusantara VIII.

“Dengan demikian, daripada terjadi sesuatu hal tak diinginkan, dengan terpaksa semua murid SDN Malabar II digabungkan dengan SDN Malabar IV. Secara kebetulan ukuran ruangan kelas di bangunan kuno itu sudah tidak sesuai dengan persyaratan ideal sekolah,” kata Undang sambil menyebutkan jumlah murid hasil gabungan dua sekolah itu mencapai 321 orang.

Meski keberadaan sekolah panggung sudah hampir ditinggalkan murid-muridnya, Undang merasa bertanggung jawab untuk merawat dan memelihara pelestarian bangunan sekolah itu. Bahkan ia bersama orang tua murid berencana mengadakan perbaikan bangunan secara swadaya tanpa menggantungkan pada perusahaan dan pemerintah. Untuk mengganti atap seng yang sudah rusak dibutuhkan 1.500 lembar seng berukuran 140 cm x 90 cm. Secara kebetulan orang tua murid yang juga para karyawan pabrik teh setuju untuk memperbaiki sekolah kuno tersebut.

Jika bangunan tua itu sudah diperbaiki bagian atapnya, kata Undang, para murid yang digabungkan di SD Malabar IV, akan dipindahkan lagi ke bangunan lama. Secara kebetulan hampir 70 persen murid-murid ingin belajar di sekolah panggung. Alasannya dengan belajar di sekolah tersebut, mereka merasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan di sekolah bangunan baru.

Kosasih yang pada saat itu sedang berada di lingkungan SD Malabar II, meminta agar bangunan SD tersebut jangan dibiarkan punah. Alasannya, sekolah tersebut merupakan SD tertua di Kab. Bandung. Dan bisa dikatakan pula, sekolah itu merupakan pembaru bagi kemajuan anak-anak bangsa, saat bangsa Indonesia terbelenggu penjajahan bangsa Belanda.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kec. Pangalengan, Drs. Asep Hendia seperti diungkapkan Undang, telah mengusulkan kepada Pemkab Kab. Bandung agar SDN Malabar II dijadikan sebagai museum SD. Bila rencana itu terwujud, bangunan tua warisan Bosscha itu akan dipakai sebagai tempat penataran dan pelatihan para guru, khususnya di Kec. Pangalengan dan Kab. Bandung.  H.Undang Sunaryo/”MD” Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 07 September 2004





Dijual Buku Antik dan Langka Sastra Sejarah Dll
Dijual Majalah Cetakan Lama
Dijual Buku Pelajaran Lawas

Postingan terkait

Saya JAY SETIAWAN
tinggal di kota Bandung. Selain iseng menulis di blog, juga menjual buku-buku bekas cetakan lama. Jika sahabat tertarik untuk memiliki buku-buku yang saya tawarkan, silahkan hubungi Call SMS WA : 0821 3029 2632. Trima kasih atas kunjungan dan attensinya.

Sekolah Tertua di Kabupaten Bandung

Posting Komentar